Post Views: 48
uin-suska.ac.id Empat tahun lalu, petani di Desa Krandegan nyaris pasrah pada musim. Jika hujan terlambat datang, sawah mengering. Panen hanya sekali setahun. Hari ini, air mengalir setiap pagi ke hamparan sawah seluas 70 hektar. Padi tumbuh tiga kali setahun. Bising mesin diesel yang dulu menghabiskan lebih Rp200 juta per tahun telah berhenti, digantikan cahaya matahari.
Di tepi Sungai Dulang, sebanyak 60 keping modul surya berbaris di atas tiang baja dengan menghadap ke Utara. Di tengah hamparan padi, barisan ini membentuk panel surya sebesar 18 kWp. Di bawahnya, beberapa kotak kontrol logam terkunci rapat. Kabel-kabel hitam mengalirkan arus listrik yang dihasilkan dari cahaya matahari ke sebuah pompa 11 kW. Setiap pagi, pompa itu mulai menarik air dari badan sungai pada kedalaman empat meter. Air tersebut mengucur deras pada ujung pipa, masuk ke saluran irigasi, dan membasahi sebagian besar lahan di sentra produksi padi di Jawa Tengah.
Pemandangan ini mungkin tidak istimewa bagi para profesional energi surya. Namun bagi para petani di Kabupaten Purworejo, ini adalah akhir dari kekhawatiran panjang yang menghantui mereka selama bertahun-tahun.
Tiga tahun sebelum panel pertama dipasang, sawah dan sistem irigasi desa ini nyaris kolaps. Sejak 2018, petani menikmati program irigasi gratis berkat donatur yang membiayai bahan bakar tujuh mesin diesel penggerak pompa. Namun pada 2021, donatur mengisyaratkan penghentian bantuan. Biaya bahan bakar, pelumas, dan perawatan melebihi Rp200 juta per tahun, atau sekitar Rp2,67 juta per hektar. Biaya sebesar itu tidak dapat dipenuhi oleh petani, sedangkan dana desa tidak dapat dialokasikan untuk membeli bahan bakar. Tanpa subsidi, petani hanya punya dua pilihan; kembali bertani tadah hujan dengan satu kali panen setahun, atau meninggalkan sawah.
Di titik genting itulah, terjadi komunikasi antara Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, SE., dengan tim pengabdi dari Program Studi Teknik Elektro UIN Suska Riau atas rekomendasi Wahyu Anjarjati, staf teknis di BMKG Bandar Udara Yogyakarta International Airport (YIA). Tim pengabdi terdiri dari Ir. Kunaifi, Ph.D., Dr. Alex Wenda, Dr. Zulfatri Aini, dan dosen lain dari Fakultas Sains dan Teknologi. Mereka bukan membawa uang, tetapi hasil kajian komprehensif dan rancangan setebal lebih 60 halaman.
Dokumen yang memuat cetak biru teknis tersebut dipresentasikan oleh Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, SE., kepada berbagai pihak, yang berbuah pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pada 2022, panel dan pompa pertama dipasang. Sebagian sawah kembali dibasahi air sepanjang tahun. Panen yang sebelumnya hanya satu kali, menjadi tiga kali per tahun. Rasa kuatir para petani berubah menjadi kebahagiaan.
Empat tahun kemudian, Agros, perusahaan energi Singapura menghibahkan panel dan pompa baru untuk petani di Krandegan. Bantuan ini berhasil meningkatkan volume air sehingga hampir seluruh 70 hektar sawah mendapat suplai air yang memadai sepanjang tahun.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, dilakukan peresmian panel dan pompa hibah dari Agros pada 21 Mei 2026. Wakil Bupati Purworejo, Dion Agassi Setiabudi, S.I.Kom., M.Si., hadir bersama lebih dari 150 undangan — termasuk Forkopimda, DPRD Purworejo, Pemerintah Daerah, kepala desa se-Kecamatan Bayan, kelompok tani, serta para ulama.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menekankan keterkaitan antara ketahanan energi global dan inisiatif di Desa Krandegan tersebut:
“Negara yang masih mengandalkan sumber energinya pada minyak bumi akan berhadapan dengan masalah besar. Energi terbarukan, seperti yang diimplementasikan di Krandegan ini, adalah solusi inovatif untuk ketahanan energi dan pangan desa.”
Dwinanto, SE, Kepada Desa Krandegan, dalam sambutannya menyampaikan:
“Produktivitas padi di Krandegan meningkat dari satu kali panen per tahun menjadi tiga kali panen. Nilai tambah ekonomi yang diterima petani mencapai sekitar Rp5 miliar per tahun. Biaya bahan bakar tidak ada lagi. Untuk capaian tersebut, kami mengucapkan terimakasih kepada UIN Suska Riau yang telah terlibat sejak awal, Agros yang mengembangkan pompa surya ini, dan semua pihak yang telah berperan dalam mewujudkan program yang berdampak nyata ini.”
Anggota kelompok tani setempat, yang namanya tidak asing bagi tim UIN Suska Riau, menambahkan, “dulu kami bayar solar hampir Rp500 ribu per hari. Sekarang praktis tidak keluar biaya, paling cuma bersihin panel sesekali.”
Sebagai apresiasi, Kepala Desa Krandegan mengundang Rektor UIN Suska Riau untuk menyampaikan orasi ilmiah dalam acara peringatan Hari Bumi 2026 di Desa Krandegan. Rektor Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, M.Si., Ak., CA., hadir bersama tim pengabdi, Ir. Kunaifi, Ph.D. dan Dr. Alex Wenda, menyampaikan orasi akademik di tepi sawah.
Ia mengingatkan bahwa kontribusi UIN Suska Riau seperti ini bukan yang pertama dan tidak lahir tiba-tiba. Pada tahun 2010, UIN Suska Riau mengambil keputusan berani dengan membuka konsentrasi energi terbarukan di Program Studi Teknik Elektro — sebuah keputusan yang saat itu belum dilakukan oleh perguruan tinggi lain di Indonesia. Namun keyakinan tersebut membuahkan hasil. Pendataan internal pada 2021 menunjukkan bahwa lebih dari separuh proyek PLTS atap nasional teridentifikasi melibatkan alumni program studi Teknik Elektro tersebut, menunjukkan dampak yang signifikan bagi green job nasional.
“Apa yang kita lihat di Krandegan adalah aplikasi langsung dari ekosistem keilmuan yang dibangun selama 16 tahun,” ujar Prof. Leny. “Transformasi di desa tidak akan terjadi hanya dengan proyek besar atau dengan kebijakan pusat. Transformasi akan mencapai puncak manfaatnya ketika desa-desa seperti Krandegan menjadi pusat inovasi. Ketika teknologi tidak datang dari atas, tetapi tumbuh dari bawah,” lanjut Rektor.
Peringatan Hari Bumi 2026 di Desa Krandegan diakhiri dengan kunjungan lokasi, tempat panel surya dan pompa dipasang. Para peserta menunjukkan wajah gembira. Bagi UIN Suska Riau, Krandegan adalah bukti bahwa universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi menghadirkan solusi. Bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah, melainkan hidup di tengah masyarakat—mengalir bersama air irigasi, tumbuh bersama padi, dan mengubah masa depan mereka yang paling membutuhkan.