Post Views: 31
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau berkolaborasi dengan Yayasan Bani K.H. Abdurrahman Wahid (YBAW) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Eko-Teologi: Agama untuk Perdamaian dan Pelestarian”. Acara ini menyoroti peran esensial agama serta tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam menghadapi krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin masif. Seminar yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa ini turut menggandeng berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Bapak Abdul Gafur, S.STP, M.Si beserta tim dari Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian dalam Negeri serta Kepolisian Daerah (Polda) Riau yang diwakili Bapak AKBP DERMAWAN MARPAUNG, S.IK, M. Si. dari Wadir Binmas Polda Riau , guna membangun kolaborasi lintas sektor yang inklusif.
Dalam pemaparannya, Direktur Eksekutif YBAW sekaligus Koordinator Seknas Jaringan Gusdurian, Bapak Jay Akhmad, menekankan perlunya menarik gagasan besar Gus Dur tentang agama, demokrasi, dan budaya ke dalam konteks ekologi. Ia menegaskan bahwa konsep Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta) sering kali disempitkan hanya untuk kepentingan manusia, padahal semesta alam juga berhak mendapatkan rahmat tersebut. Melalui pendekatan Eko-Teologi, agama dituntut untuk menghadirkan teologi pembebasan yang tidak hanya membebaskan manusia dari penindasan, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dan alam yang kini tengah tereksploitasi akibat ulah manusia.
Lebih lanjut, seminar ini mengkritisi paradigma lama (antroposentrisme) di mana doktrin agama kerap dijadikan dalil justifikasi bagi manusia untuk menaklukkan dan mengeksploitasi alam demi keuntungan ekonomi. Kini, diperlukan pergeseran paradigma menuju gerakan The Greening of Religion, di mana agama harus mengambil peran aktif dalam menjaga bumi. Berbagai krisis ekologi nyata di Indonesia, mulai dari darurat sampah di Yogyakarta, penurunan muka tanah di Semarang, hingga masifnya deforestasi dan pertambangan di Riau serta Kalimantan, menjadi bukti bahwa agama tidak boleh lagi hanya sebatas inspirasi ritual ibadah, melainkan harus turun tangan secara konkret melestarikan lingkungan.
Permasalahan lingkungan ini juga ditegaskan memiliki keterkaitan erat dengan geopolitik dan geoekonomi global. Ketegangan internasional, seperti konflik Rusia-Ukraina maupun krisis Timur Tengah antara Iran dan Israel, memberikan efek domino terhadap ketahanan energi nasional yang berujung pada kelangkaan dan antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai wilayah Indonesia. Situasi krisis energi dan eksploitasi alam yang saling berkaitan ini menuntut aksi nyata di lapangan, seperti inisiatif peninjauan langsung terhadap pembalakan liar (illegal logging) yang dilakukan di wilayah Aceh, untuk memetakan dan menyelesaikan akar permasalahan.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Dr. Desrir Miftah, S.E., M.M., Ak menekankan bahwa upaya pelestarian lingkungan bukanlah tugas yang bisa diselesaikan oleh pemerintah atau aparat penegak hukum secara eksklusif. Perguruan tinggi memiliki kewajiban moral untuk menjadi motor penggerak inovasi, riset, dan dialog lintas disiplin ilmu. Melalui inisiatif seminar ramah lingkungan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat mulai dari akademisi, tokoh agama, hingga mahasiswa untuk menciptakan aksi nyata yang berakar pada nilai-nilai teologis demi keberlanjutan bumi dan perdamaian sosial. Acara ini dibuka secara langsung oleh Prof. Dr. Raihani, M.Ed.Ph.D. Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.