Post Views: 88
uin-suska.ac.id Sebagai dosen tamu, Associate Prof. Dr. Fauziah, seorang akademisi dan peneliti di bidang lingkungan dari Universiti Malaya, memaparkan perkembangan riset terkini terkait mikroplastik dalam sebuah sesi presentasi ilmiah. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa penelitian yang awalnya berfokus pada ekosistem laut kini telah berkembang ke mangrove, perairan tawar, hingga akhirnya menyoroti kontaminasi mikroplastik di tanah—isu global yang relatif baru namun semakin mengkhawatirkan.
“Plastik ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari, namun pengelolaan limbah yang buruk menyebabkan kebocoran ke lingkungan, dari daratan hingga ke laut, sehingga menjadi masalah global yang serius,” ujar Assoc Prof. Dr. Fauziah.
Ia juga menyoroti bahwa hanya sekitar 9% limbah plastik global yang berhasil didaur ulang, dan bahkan dari jumlah tersebut, tidak semuanya benar-benar kembali ke dalam siklus ekonomi.
Lebih lanjut, Assoc Prof. Dr. Fauziah mengungkapkan bahwa meskipun penelitian selama ini banyak berfokus pada mikroplastik di laut, tingkat kontaminasi di tanah justru jauh lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian sekaligus peluang besar untuk pengembangan kajian ke depan.
Menurutnya, kontaminasi mikroplastik di daratan terutama berasal dari empat sektor utama:
1. Pertanian, melalui penggunaan plastik pada mulsa dan pupuk
2. Sektor domestik, akibat pengelolaan sampah dan limbah kemasan yang kurang baik
3. Transportasi, dari gesekan ban dan abrasi jalan
4. Konstruksi dan industri, melalui degradasi bahan seperti cat dan isolasi
Assoc Prof. Dr. Fauziah menjelaskan bahwa mikroplastik bersifat persisten di lingkungan dan dapat mengubah struktur tanah, menyebarkan polutan, serta melepaskan zat beracun. Bahkan, mikroplastik dapat bertindak sebagai pembawa kontaminan kimia dan biologis.
“Mikroplastik dapat berpindah dari tanah ke tanaman, kemudian ke hewan, dan akhirnya ke manusia melalui rantai makanan. Ini merupakan risiko kesehatan jangka panjang yang serius,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa tingginya konsumsi dan perilaku yang mengutamakan kepraktisan menjadi faktor utama meningkatnya polusi plastik, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, solusi teknis saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang lebih baik.
Sebagai alternatif, pendekatan biologis dinilai menjanjikan dalam mengurangi polusi plastik, meskipun masih memerlukan waktu. Selain itu, diperlukan inovasi dalam desain plastik agar dapat terurai secara aman dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang.
Assoc Prof. Dr. Fauziah juga menyoroti pentingnya standardisasi metode dan kebijakan global untuk mengukur serta menangani polusi mikroplastik secara efektif.
Dalam penutupnya, ia menegaskan bahwa pemulihan kesehatan tanah merupakan langkah krusial dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan global. Tiga strategi utama yang direkomendasikan meliputi:
1. Pengembangan bioremediasi berbasis mikroba
2. Transisi ke bioplastik sirkular yang aman dan mudah terurai
3. Penerapan standar dan kebijakan yang ketat
“Melindungi pasokan pangan global berarti kita harus mulai dari tanah—menghilangkan kontaminasi plastik dan beralih ke solusi berbasis sains yang berkelanjutan,” pungkasnya.