Bagaimana jika suatu hari kita harus memilih: makan atau listrik?
Dunia saat ini menghadapi tiga masalah besar sekaligus: krisis energi, ancaman ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani yang belum merata. Semuanya sama-sama penting dan membutuhkan lahan. Lahan adalah komoditas mahal pada saat ini dan di masa depan. Lahan pertanian dibutuhkan untuk menyediakan makanan bagi populasi dunia yang semakin banyak. Lahan juga digunakan untuk produksi energi bersih, menjamin Bumi yang layak dihuni oleh manusia tanpa emisi gas beracun. Di dunia yang semakin padat ini, konflik dapat muncul di atas sepetak lahan saat kita dihadapkan pada pilihan sulit: menggunakan lahan untuk menanam pangan atau membangun pembangkit listrik ramah lingkungan?
Tapi bagaimana jika kita tidak perlu memilih? Di UIN Suska Riau, para peneliti sedang menguji sebuah gagasan: satu lahan, dua hasil — pangan dan energi sekaligus. Pendekatan ini disebut agrivoltaik, gabungan dari agriculture (pertanian) dan photovoltaic (listrik energi surya). Agrivoltaik adalah pendekatan baru, tidak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia. Dengan agrivoltaik, sebuah lahan tidak hanya menghasilkan sayuran segar untuk makan bergizi, tetapi juga membangkitkan listrik untuk mengisi daya ponsel, memompa air bersih, atau kebutuhan lain.
Ilustrasi ini dihasilkan dengan bantuan NotebookLM melalui penggunaan prompt yang dirancang secara spesifik sesuai kebutuhan visualisasi ilmiah.
Dengan dukungan dana penelitian BOPTN UIN Suska Riau tahun 2025, Dr. Kunaifi, ST., PgDipEnSt., M.Sc., dosen energi terbarukan di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dan peneliti di Satya Institute for Sustainability UIN Suska Riau bersama timnya membangun sebuah sistem agrivoltaik eksperimental. Sistem ini terdiri dari panel surya di ketinggian tertentu, sementara di bawahnya, lahan ditanami tumbuhan. Aktivitas ini melibatkan perancangan struktur elektrik, mekanis, dan pemasangan sensor-sensor pintar untuk memonitor kondisi lingkungan di sekitar dan di bawah sistem agrivoltaik. Dua mahasiswa, Muhammad Syukri dan Iskandar Muda Sirait, dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) dan FST, bergabung dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini, tim peneliti tidak hanya memasang panel surya di atas tanaman. Mereka juga mengembangkan ASICS (Agri Solar Intelligent Monitoring and Control System), sebuah sistem cerdas berbasis Internet of Things (IoT) yang bertindak sebagai “otak digital” kebun. Sensor membaca suhu tanah, kelembapan, pH, hingga intensitas cahaya setiap 10 menit. Data tersebut dikirim ke cloud dan dianalisis untuk mengetahui bagaimana tanaman dan panel surya saling mempengaruhi. Salah satu anggota peneliti, Putut Son Maria, S.ST., M.T., menjelaskan, “sejauh ini, belum ditemukan sistem pemantauan komersial yang khusus dirancang untuk kebutuhan unik agrivoltaik.”
Pemantauan kondisi tanaman adalah bagian dari smart farming yang sedang berkembang saat ini. “Dengan sensor yang terhubung ke cloud, kami bisa memantau pH tanah, kelembapan, suhu, hingga intensitas cahaya langsung dari layar ponsel,” kata Novita Hera, S.P., M.P., ahli pertanian dari Fakultas Pertanian dan Peternakan yang merupakan tim peneliti. Ke depan, sistem ini berpotensi menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memastikan pertumbuhan tanaman yang optimal di bawah konfigurasi panel tertentu.
Apa yang terjadi ketika panel surya dan tanaman hidup berdampingan? Hasil awal dari penelitian ini menunjukkan sesuatu yang menarik: tanah di bawah panel surya lebih sejuk dan lembap dibandingkan lahan terbuka. Artinya, untuk tanaman tertentu, panel surya bukan penghalang — tetapi pelindung tanaman dari panas ekstrem. Di sisi lain, panel surya tetap bekerja maksimal menghasilkan energi listrik ramah lingkungan.
Penelitian tahun pertama ini telah memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan. Namun sekaligus memunculkan lebih banyak pertanyaan penelitian baru, yang merupakan fokus pada langkah penelitian selanjutnya. Jika model ini berhasil dikembangkan dalam lima tahun ke depan, agrivoltaik bukan hanya proyek laboratorium, namun berpotensi menjadi model baru pertanian Indonesia.
Bayangkan desa-desa yang menghasilkan listrik sendiri, petani yang mengurangi biaya pompa air, dan lahan yang menghasilkan dua komoditas sekaligus: energi dan pangan. “Inilah masa depan pangan dan energi yang sedang diuji hari ini di UIN Suska Riau”, pungkas Kunaifi.




