Post Views: 221
uin-suska.ac.id – Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau menjadi saksi penguatan intelektual antarnegara dalam gelaran International Conference on Islamic Studies yang bekerja sama dengan Universiti Malaya (UM), Malaysia, Rabu (14/01/2026).
Acara yang dipusatkan di Ruang Rapat Senat Lantai 5 ini menyoroti kolaborasi akademik mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, khususnya dari Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah dan Fakultas Tabiyah keguruan.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UIN Suska Riau, Prof. Dr. H. Prof. Raihani M.Ed. Ph.D Dalam pembukaannya, beliau menekankan bahwa kehadiran mahasiswa dari latar belakang Ushuluddin dan Syariah sangat krusial dalam menjawab tantangan global.
“Mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin adalah penjaga fondasi pemikiran Islam, sementara mahasiswa dari Syariah adalah ujung tombak dalam mentransfer nilai-nilai tersebut kepada generasi mendatang. Kolaborasi dengan Universiti Malaya ini adalah langkah konkret untuk menyatukan visi tersebut di level internasional,” ungkap Prof. Raihani.
Sesi pagi diisi dengan diskusi panel yang dinamis. Mahasiswa dari program studi Syariah membawa perspektif menarik mengenai kerukunan umat beragama dan studi komparatif, sementara mahasiswa Pendidikan Islam memaparkan inovasi metode pembelajaran Islam di era digital.
Setelah diskusi pleno, kegiatan berlanjut ke sesi paralel yang dibagi ke dalam dua ruangan:
* Ruang A: Fokus pada kajian fundamental Islam, teologi, dan studi agama (Fakultas Ushuluddin & Syafiah).
* Ruang B: Fokus pada pengembangan kurikulum, metode pengajaran, dan problematika pendidikan Islam masa kini.
Pemisahan ini bertujuan agar para peneliti muda dari kedua universitas dapat berdiskusi secara lebih spesifik dan mendapatkan umpan balik yang tajam dari para pakar yang hadir.
Eksplorasi Budaya Serumpun
Menutup rangkaian agenda akademik, para delegasi dari Malaysia diajak mendalami akar budaya Melayu di Riau. Kunjungan diawali ke Masjid Agung An-Nur untuk melihat keagungan arsitektur religi Riau, kemudian dilanjutkan ke Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.
Di LAM Riau, para mahasiswa dan dosen pengamping diberikan edukasi mengenai adat istiadat yang menjadi identitas pemersatu antara Riau dan Malaysia. Kunjungan ini menegaskan bahwa selain ikatan ilmu, kedua institusi juga memiliki ikatan batin sebagai masyarakat serumpun.