Post Views: 370
uin-suska.ac.id Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “Transformasi Pertanian dan Peternakan: Peran Generasi Muda dalam Menjawab Tantangan Pangan Lokal” pada Selasa (7/10/2025). Acara ini merupakan upaya nyata FPP dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional. Bertempat di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), acara ini dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan, Dosen, Tenaga Kependidikan, dan panitia. Ketua Panitia, Yusmar Mahmud, SP., M.Si, menegaskan pentingnya keterlibatan anak muda dalam memajukan sektor pangan berbasis inovasi dan teknologi.
Dekan FPP, Dr. Arsyadi Ali, S. Pt., M.AgrSc., menyayangkan kecenderungan banyak sarjana muda yang enggan bekerja di sektor pertanian, padahal pertanian adalah benteng pertahanan pangan dunia. Dr. Arsyadi menekankan bahwa program studi di FPP—pertanian, peternakan, dan ilmu gizi—terus bertekad memajukan ilmu pengetahuan dan aplikasinya untuk dunia kerja.
Kuliah umum menghadirkan praktisi berpengalaman, Purwo Hadi Subroto, yang dipandu oleh moderator Devi Trisna Ramadhani, S.Gz., M.Gz. Dalam paparannya, Purwo Hadi menyampaikan bahwa peningkatan kebutuhan pangan lokal di Indonesia belum diimbangi oleh produktivitas pertanian dan peternakan yang optimal. Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama: rendahnya regenerasi petani, keterbatasan teknologi, dan lemahnya rantai pemasaran.
Purwo mengungkapkan data bahwa rata-rata usia petani di Indonesia sudah mencapai 54 tahun, dan anak muda semakin menjauh dari sektor ini. Padahal, ia menilai, generasi muda memiliki potensi besar untuk membawa transformasi melalui digitalisasi, inovasi bisnis, dan penerapan sistem pertanian berkelanjutan. Ia menekankan peran strategis generasi muda sebagai agen perubahan, penghubung antara inovasi dan tradisi, serta pelopor pertanian berkelanjutan.
Strategi pemberdayaan yang diusulkan oleh Purwo mencakup:
Selain itu, inovasi bisnis pemuda menjadi sorotan utama, seperti pengembangan agrowisata edukatif, integrated farming, serta pemanfaatan teknologi hidroponik dan vertical farming di lahan terbatas. Model bisnis ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk pangan lokal dan menarik minat generasi muda.
Purwo juga menyoroti perlunya dukungan kebijakan pemerintah berupa pendampingan kelembagaan, kemudahan akses modal, dan promosi produk lokal, baik untuk pasar modern maupun ekspor. Ia menutup paparannya dengan optimis, “Dengan dukungan kebijakan yang berpihak pada petani muda serta pemanfaatan teknologi digital, pertanian Indonesia bisa menjadi lebih modern, efisien, dan menarik bagi generasi penerus bangsa.”