Post Views: 2,528
uin-suska.ac.id Program Studi Gizi Fakultas Pertanian dan Peternakan (Fapertapet) UIN Sultan Syarif Kasim Riau menggelar kegiatan Review Kurikulum di Hotel Pangeran Pekanbaru, yang dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai instansi mitra institusi seperti KPPG Pekanbaru, STIKes PMC, DPD Pergizi Pekanbaru, PHRI Riau, Puskesmas Pekanbaru, BBPOM Pekanbaru, Aulia Hospital, dan DWP Provinsi Riau, pada hari Rabu 19 November 2025.
Dalam sambutannya, Sofya Maya, S.Gz., M.Si selaku ketua Prodi Gizi sekaligus ketua pelaksana menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam penguatan kurikulum Prodi Gizi.
“Review kurikulum ini adalah langkah krusial agar kurikulum Prodi Gizi tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, dan dinamika profesi. Kami ingin memastikan kurikulum benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan masa depan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tracer study menunjukkan tingkat penyerapan lulusan yang tinggi, sehingga kurikulum harus terus diperkuat agar lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan.
Wakil Dekan I Dr. Restu Misrianti, S.Pt., M.Si menegaskan bahwa Prodi Gizi merupakan salah satu program studi dengan peminat tertinggi di fakultas.
“Kegiatan ini bukan sekedar memenuhi regulasi, tetapi juga bagian dari strategis untuk menghadirkan kurikulum yang mutakhir dan berdaya saing. Masukan dari para stakeholder akan sangat menentukan kualitas kurikulum kita ke depan,” jelasnya.
Acara ini menghadirkan dua narasumber secara hybrid melalui Zoom Meeting, yaitu Prof. Dr. Ir. Budi Setiawan, MS (Ketua Umum AIPGI) dan A. Fahmi Arif Tsani, S.Gz., M.Sc, Dietisien dan Sekretaris Umum AIPGI.
Dipandu oleh moderator, Dr. Tahrir Aulawi, S.Pt., M.M.St dan Devi Trisna Ramadhani, S.Gz., M.Gz, kegiatan berlangsung interaktif.
Prof. Budi menekankan pentingnya menyelaraskan kurikulum dengan standar AIPGI, perkembangan teknologi, dan kebutuhan kompetensi lulusan.
“Kurikulum gizi harus sesuai dengan standar nasional AIPGI dan perkembangan ilmu gizi modern. Lulusan harus mampu menerapkan evidence-based nutrition, menguasai asesmen gizi presisi, serta mampu beradaptasi terhadap transformasi layanan kesehatan,” jelas Prof. Budi.
Beliau juga menegaskan perlunya penguatan CPL dan kemitraan dalam implementasi kurikulum.
“CPL harus terukur, relevan, dan mencerminkan kebutuhan lapangan kerja. Kemitraan dengan rumah sakit, puskesmas, industri, dan lembaga terkait menjadi kunci keberhasilan kurikulum,” tambahnya.
Materi dari Fahmi menyoroti penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), perumusan CPL, dan kebutuhan dunia kerja.
“Kurikulum berbasis OBE harus dimulai dari profil lulusan, kemudian diturunkan menjadi CPL dan CPMK yang selaras. Setiap mata kuliah harus memiliki constructive alignment agar hasil belajar dapat tercapai secara optimal,” jelas Fahmi.
Ia juga menegaskan pentingnya kurikulum yang mampu menjawab lima ruang kerja utama bagi lulusan gizi.
“Lulusan gizi harus siap bekerja di klinik, komunitas, industri, program pemerintah, hingga wirausaha. Oleh karena itu, kurikulum perlu memperkuat praktik langsung, magang, soft skills, dan kemampuan teknologi,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi panel dan sesi tanya jawab. Masukan dari narasumber dan instansi mitra institusi menjadi dasar penting dalam penyempurnaan Kurikulum Prodi Gizi Tahun 2026. Panitia menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada semua peserta dan narasumber yang telah berkontribusi, diakhiri dengan sesi foto bersama.