Hidup Mulia dengan Alquran

Oleh Hidayatullah (Dosen UIN Suska Riau)

Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Dengannya hidup menjadi bahagia, urusan menjadi mudah, dan tentunya setiap aktivitas penuh akan berkah. Berangkat dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya. Dari Nafi’ bin ‘Abdul Harits tatkala suatu hari pernah bertemu dengan Umar di suatu Usfan (nama sebuah lembah yang ada di tanah Arab, yang bukan sembarang lembah) dan ketika itu Umar menugaskan Nafi untuk mengurusi Kota Makkah. Umar pun bertanya, “Kalau begitu siapa yang mengurus penduduk Al-Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapa Ibnu Abza”. Ketika itu dijawab, “Dia adalah di antara bekas budak kami.” Umar terheran dan berkata, “Kenapa yang engkau tugaskan adalah bekas budak?” Nafi’ menjawab, “Ia itu paham akan Alquran dan memahami ilmu faraidh (waris).” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya Nabi  SAW itu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Alquran) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.” (HR Muslim no. 817). Tatkala keseharian ini dipenuhi dengan Alquran, maka Allah SWT akan meninggikan derajat seseorang, meskipun ia hanyalah seorang bekas budak di mata para manusia, tetapi Allah SWT akan mengangkat dengan caranya.
Allah SWT sebagai Rabb yang menurunkan Alquran tidaklah semata-mata hanya sebagai bahan bacaan atau dongeng yang dituduhkan oleh sebagian orang. Akan tetapi, Alquran adalah sebagai sumber kejelasan antara kebenaran dan kebatilan, dasar pengetahuan, petunjuk dan tentunya adalah rahmat atas kasih sayang khaliq terhadap para makhluknya.
Allah SWT,  berfirman “Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka kitab (Alquran) yang telah Kami jelaskan secara terperinci atas dasar pengetahuan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”(QS. Al-Araf 7: 52).
Tidakkah seseorang merenungkan dalam segala aktivitas kehidupannya, apapun yang diusahakan adalah mencapai kemuliaan, baik dari sisi harta, kedudukan dan seluruh lini urusannya. Namun, kita sering melupakan bahwa kemuliaan yang ingin dicapai, akan semakin mudah jika dibarengkan dengan Alquran. Meskipun seolah-olah jika seseorang menghabiskan waktunya untuk Alquran, maka ia akan mengurangi waktu dalam hal lainnya, tetapi di sinilah keberkahan dari kitab suci ini. Semakin seseorang bertukus lumus dalam membacanya, mengkaji, menghafal dan mentadabburinya, maka waktu demi waktunya menjadi semakin berkah.

Kemuliaan hidup dan manisnya iman akan mudah dirasa, inilah bentuk janji Allah SWT “Inilah kitab yang Kami turunkan penuh dengan keberkahan” (QS. Al-An’am 6: 92). Kemuliaan hidup dengan Alquran akan menjadikan rumah yang kecil terasa lapang, makanan sedikit akan terasa cukup dan kenyang, masalah yang berat akan terasa ringan, tidaklah itu semua bisa diraih melainkan menjadikan Alquran sebagai sumber kehidupan. Lihatlah potret para sahabat Radhiallahu Anhum Ajma’in, bukankah Umar bin Khattab seseorang pribadi yang dikenal dengan watak yang keras, tetapi saat sayupan dari ayat suci Alquran menyentuh dadanya, merubah kebebalan itu menjadi ketaatan, sehingga hidayah menembus relung hatinya.

Lihatlah ketika ayat hijab diturunkan (QS. Al-Ahzab: 59) pada malam harinya, para sahabat siangnya spontan mengenakkannya. Dan juga tatkala ayat tentang pengharaman khamar, para sahabat langsung membuangnya, bahkan yang masih berada di tangannya. Seketika Alquran mereka jadikan sumber pedoman, maka keberkahan demi keberkahan telah diraihnya. Sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tidak memahami latar belakang ini, akan sulit mengambil hikmahnya. Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Alquran adalah keimanan mereka kepada Allah, surga dan neraka-Nya, juga kepada janji-Nya. Maka Allah SWT menjadikan generasi ini adalah generasi terbaik, generasi emas, terutama dalam menggapai kemuliaan hidupnya dengan Alquran. Maka tidakkah tergerak hati setiap kita untuk meraih kemulian demi kemuliaan tersebut? Bukankah Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjadikkannya Nabi yang paling mulia di antara yang lainnya? Bukankah Alquran turun dalam bulan Ramadan sehingga menjadikannya bulan yang paling mulia di antara bulan yang lainnya? Bukankah Alquran turun dalam suatu malam, melainkan menjadikannya malam yang paling baik dari 1.000 bulan? Maka, tidaklah Alquran ini turun kepada umat, melainkan menjadikannya umat terbaik sepanjang zaman. Oleh sebab itu raihlah kemulian demi kemuliaan dalam kehidupan, dengan Alquran. Wallahu ‘Alam.***

Telah dipublikasikan di Riau Pos Edisi 27 April 2022

About hendry

Check Also

Merawat Fitrah Generasi Muda

oleh Dr Hidayatullah Ismail Lc MA (Dosen Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Suska Riau) Hari …